Dadakan

August 7th, 2007 by cupflove

Belakangan semakin terbiasa membantu acara teman-teman dalam nuansa
dadakan. Setelah seminggu kemarin mendadak sibuk di acara Fight the
Gladiator, kemarin saya mengurungkan niat untuk nonton Soundrenaline
karena mendadak ng-MC di Viking Day 14th Anniversary. Dari banyak
sejarah dadakan, ini sepertinya rekor tersendiri karena saya
dikonfirmasi untuk mengisi acara 15 menit sebelum dimulai. Terdengar
aneh, ya.. Beginilah saya, kalau sudah membantu teman, terkadang suka
lupa banyak hal. Kebanyakan lupa dibayar juga.

Saya
selalu mencari sesuatu yang menarik dari sebuah konsep mendadak.
Setelah tahu bahwa ini pekerjaan non-profit, maka saya cari benefit.
Dalam hal ini saya cari relasi media, menggalang suara untuk dukung
Persib dengan positif, merencanakan aksi untuk menggusur para
penggerogot Persib, menjadi juru bicara Persib, membela Zaenal
Arief-Arcan Iiurie, dan kok saya tiba-tiba jadi PR-nya Persib, ya?
Beginilah saya, untuk Persib terkadang suka pengen bantuin semuanya.
Kadang bantu untuk menutupi hal-hal ‘yang lain’ pula..

Tidak
nonton Soundrenaline, saya tetap terhibur dengan band-band cover
version yang tampil di Viking Day. Kebetulan tema yang diusung The
Legend, jadilah mereka mencari band yang membawakan lagu-lagu dari grup
band legendaris. Malam itu banyak sekali lagu Nirvana, Metallica,
Slank, Iwan Fals dan Kantatatakwa, Rolling Stones serta Bob Marley yang
sudah lama tidak saya dengar dibawakan kembali. Sedikit terpana juga
melihat Java Stone yang vokalisnya benar-benar wanna-be berat Oom
Jagger.


Saat
naik ke atas panggung vokalis yang bodinya juga setipis Jagger ini
membawa sebungkusan plastik. Kita belum mengerti sulap apa yang akan
dibawakan. Semakin lama, malam semakin panas, dan sang vokalis mulai
melepas bajunya satu persatu. Sempat, pas mau melepas setelan
panjangnya butuh waktu lima menit, dan dibantu panitia pula. Lalu,
terbongkarlah rahasia bungkusan ajaib itu. Isinya adalah bendera
Inggris yang bisa dijadikan jubah ala Superman. Emang Jagger pernah
bergaya seperti itu, ya?

Yang paling bikin bahagia adalah
penampilan Motor Dead. Uuuuh, serasa ingin sekali kembali ke Jogjakarta
di tahun 1994 saat metal merajalela di sana. Saat pentas seni
menyajikan skill-skill meniru Sepultura, Metallica dan sebangsanya.
Saat rambut masih panjang dan kepala sampai pusing karena head banging
bersama kakak-kakak kelas 3 De Britto. Sudah lama juga tidak mendengar
hentakan drum bak peluru yang dimuntahkan di film-film Rambo. Ah, saya
sudah berusia 28 tahun rupanya. Rambut sudah sulit untuk gondrong pula.
Saya tetap menganggukkan kepala, berteriak-teriak bahagia, bertepuk
tangan seperti menemukan mainan yang telah lama hilang..

Putri Aisyah

November 21st, 2005 by cupflove

Namanya Putri Aisyah
Perempuan tercantik
Karena ibunya cantik
Tingginya hanya 26 senti, tetap cantik
Beratnya 400 gram, tetap cantik

Namanya Putri Aisyah
Perempuanku yang terlahir pagi
Perempuanku yang pergi dini
Perempuanku yang kini pergi

Namanya Putri Aisyah
Perempuan kecil yang mengajarkan takwa
Perempuan kecil yang mengajarkan tawa
Perempuan kecil yang kini di surga

Namanya Putri Aisyah
Putriku

Blunder Lagi Lagi Blunder

November 21st, 2005 by cupflove

Kejutan proses pembentukan tim Persib yang masih non-manajer terus berlanjut. Suwitha Patha, gelandang berpenampilan paling stabil di Liga X,  menjadi pemain berikutnya yang harus keluar dari Persib dengan alasan tidak ada kesepakatan nilai kontrak, serta dinilai kurang loyal. Pencoretan Suwitha berbarengan dengan Dadang Sudrajat (kiper) serta mundurnya Imral Korea Usman, yang menurutnya bukan sebuah keputusan yang tiba tiba karena sudah ada PSIS yang siap menanti. Apa kabar pembentukan tim yang katanya mengutamakan kebersamaan?

Risnandar Soendoro, salah satu gelandang terbaik Indonesia tahun ’70-an, ditunjuk menjadi pelatih Persib Liga XII, di tengah ibadah shaum Ramadhan lalu. Pelatih yang mengenyam pendidikan FIFA ini, langsung membuat prioritas dalam pembenahan tim yaitu kebersamaan serta teknik.

Untuk poin kedua, Risnandar langsung membuat daftar Pekerjaan Rumah bagi pemain, sejak latihan pertama di Pusdikpom Cimahi. Striker Boy Jati Asmara harus kembali ke dasar melatih teknik tendangan serta heading, yang sempat membuatnya sedikit frustasi. Poin kebersamaan yang sempat diungkapkan Risnandar dalam beberapa kesempatan ngobrol adalah keinginannya memiliki satu tempat khusus, berupa rumah –pengganti hotel – sebagai hunian tim Persib sepanjang digelarnya liga. Harapannya, dengan tinggal dalam satu tempat yang khusus, pemain bisa lebih akrab. Bertahannya lebih dari 60% pemain Liga XI juga menjadi poin kebersamaan yang penting. Dengan 15-18 pemain sisa liga yang lalu, Risnandar berharap tidak ada masalah dalam komunikasi serta kerjasama tim.

Sayangnya rencana ini pelan pelan menemui beberapa kendala. Tanpa manajer, pengurus Persib membuat sebuah jembatan bernama Tim Negosiasi. Pemusatan latihan di Lembang yang seharusnya bisa tenang, dibikin panas dengan proses negosiasi ulang harga. Beberapa pemain ditenggarai kurang puas dengan proses yang digalang oleh beberapa petinggi Persib seperti Edi Siswadi (Ketua Harian), Yossi Irianto (Bendahara), Chandra Solehan (Ketua II Bidang Non-Amatir), Oce Permana (Humas) dan beberapa nama lain dari markas besar Persib di Jl. Gurame.

Panasnya proses ini berujung pada komentar negatif pemain hingga pemogokan pada sesi latihan fisik, Rabu, 16 November 2005. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Suwitha menjadi salah satu dalang dalam proses mogok tersebut, namun gelandang bertahan berdarah Minang ini menyebutkan bahwa mogok adalah sebuah kesepakatan bersama (Pikiran Rakyat, 17 November 2005). Momen ini yang disebut sebut sebagai bukti kurang loyalnya Suwitha terhadap Persib, dan kemudian menjadi salah satu poin pencoretan namanya dari daftar anggota tim. Ali Muchtar (Direktur Eksekutif), menetralisir berita ini dengan menyatakan bahwa pencoretan Suwitha murni kegagalan proses negosiasi dan telah melalui prosedur konsultasi dengan pelatih (Tribun Jabar, 20 November 2005). 

Saya menganggap momen ini lagi lagi sebagai blunder dalam pembentukan tim Persib Liga XII 2006, pasca pencoretan Aji Nurpijal, yang bahkan masih menimbulkan tanda tanya besar bagi bobotoh. Poin pertama dalam pencoretan Suwitha dan Aji adalah materi lokal yang selama ini digembar gemborkan oleh Ketua Umum Persib, Dada Rosada. Dengan target tahun 2008 full pemain lokal Jawa Barat, rasanya langkah pencoretan ini bisa dianggap sebagai langkah mundur. Poin berikutnya adalah umur, yang tentunya masih berkait dengan rencana pembinaan pemain muda menuju tahun 2008. Untuk poin ini rasanya bobotoh wajib mempertanyakan pencoretan Aji, serta tidak jadi direkrutnya Satria Nurjaman. Walau jika melihat usia Suwitha memang layak untuk kembali dipertanyakan, namun jawabannya bisa bobotoh lihat sendiri di lapangan di sepanjang 2 liga ke belakang. Di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun, Suwitha boleh dibilang lebih segar dari dua rekan lainnya seperti Yaris dan Dadang Hidayat. Dua nama terakhir, akhirnya juga akhirnya dicoret.
Blunder dalam proses perekrutan pemain Persib menjadi penyakit menahun dan selalu berulang di awal musim kompetisi. Lepasnya Yaris pasca Liga VIII, Atep di Liga XI, serta sederet hilangnya bintang Persib lainnya menjadi indikasi dari penyakit ini. Menuju Liga XII, kita sempat melambungkan harapan bisa melakukan persiapan lebih dini karena kontrak para pemain masih bertahan hingga Januari 2006, sebuah fenomena kontrak yang jarang terjadi. Lagi lagi perlahan tapi pasti, berbagai keraguan kembali menyeruak seiring keluarnya berbagai kebijakan yang mengundang tanya. Dalam sebuah kesempatan diskusi on-air di acara Balad Persib (Bandung TV, 15 November 2005), Yoyo S. Adiredja (Sekretaris Umum) menjawab pertanyaan bobotoh mengenai keterbukaan pengurus. Beliau mengungkapkan bahwa meningkatknya peliputan media terhadap Persib, sudah menunjukkan terbukanya kesempatan sosialisasi dari Pengurus akan berbagai kebijakan. Menurut saya yang dimaksud dengan keterbukaan oleh bobotoh adalah penjelasan secara langsung dari pengurus untuk berbagai kebijakan. Pemerintah saja sampai menjiplak cara Gedung Putih saat menyampaikan perubahan kebijakan, yang artinya setiap menteri atau komponen pemerintahan terkait mengadakan perubahan kebijakan, mereka wajib menyampaikan alasan perubahannya secara terbuka.

Persib belum menjadi sebuah industri yang kompleks dan menyangkut harkat hidup orang banyak, tapi harapan masyarakat Jawa Barat pada umumnya dan Bandung pada khususnya disandingkan di punggung Pangeran Biru. Dan kabarnya, warga Bandung juga turut membiayai Persib. Jadi, kapan terbukanya?

Kotakisme (Advance)

November 17th, 2005 by cupflove

Sarah Azhari baru saja dinobatkan sebagai sebagai artis paling seksi tahun 2005 oleh sebuah perusahaan karet pengaman terkemuka di Indonesia, tapi beritanya langsung kalah heboh oleh bom bunuh diri The Demolition Man, DR. Azahari di saat yang hampir bersamaan. Pria asal Malaysia ini sudah jadi kandidat News Maker of the Year, pembuat berita paling kondang di negeri kita sejak kasus Bom Bali I, tahun 2002 lalu. Jika ada, penghargaan tersebut akan terlalu menyedihkan. Bukan kadar berita DR. Azahari vs Sarah Azhari yang akan saya angkat, bukan pula saya mencoba mencari kedekatan mereka dari nama yang sedikit mepet, tapi sebuah ajaran paling trend saat ini yaitu Kotakisme. Dalam pengertian yang tentunya saya karang sendiri artinya kecintaan terhadap kotak dan hobi membuat kotak yang ekstra berlebihan, tidak termasuk mereka pembuat kotak untuk katering, peti kemas atau pembuat peti mati tentunya.

DR. Azahari ditenggarai oleh pihak barat sebagai biang kerok segala bentuk teror berbasis agama yang jika dugaan ini benar maka, menurut saya DR. Azahari selain pakar bom juga pakar Kotakisme. Ia ada dalam kotaknya yang sangat sempit, dan membuatnya semakin sempit. Design kotaknya dibuat kaku, mereka yang ingin masuk harus mengikuti peraturan dalam kotaknya. Ia membuat dunia diluar kotak sebagai ‘yang asing’, walaupun ia sendiri mungkin tidak merasa teralienasi. Ia membuat kotak kotak berdasarkan agama lalu menghakimi mereka yang ada di luar kotaknya. Kepandaian membuat kotak lalu menyempitkanya di otak ini merupakan dasar dari Kotakisme, kemampuan sama seperti yang dimiliki oleh pendahulunya seperti si kumis kotak Adolf Hitler, Benito Mussolini, serta Osama bin Laden (jika tokoh ini bukan rekaan tim kreatif Gedung Putih atau Pentagon). 

Kita kenal banyak kotak. Dari awal lahir juga kita langsung berada dalam kotak tertentu. Suku, Agama, Ras dan Golongan tertentu dalam masyarakat. Bahkan jika kita lahir di hutan atau gurun yang luas pun kita sudah lahir dalam sebentuk kotak. Sepertinya membuat kotak merupakah salah satu fitrah dari manusia yang makhluk sosial. Kita merasa lebih nyaman saat berkumpul dalam penghuni kotak yang sama. Berangkat dari sini, akhirnya muncul dunia di luar kotak.

Tidak cukup mengkotakkan spesiesnya sendiri, manusia merambah untuk membantu membuat kotak bagi rekan penghuni bumi lainnya. Sekira 2000 tahun yang lalu, Aristoteles mulai merintis jalan untuk mengkotak kotakkan makhluk hidup. Kotak ini dipertebal dan diperjelas oleh Carl Linne, atau yang kita kenal dengan Carolous Linneaus, sebagai pencetus klasifikasi makhluk hidup. Catat, demi mirip dengan kotak yang dibuatnya Carl rela mengganti namanya dengan Carolus yang ke latin latinan. Kita dipanggil sebagai Homo Sapiens pun berkat kotak yang digagas oleh ilmuwan asal Swedia yang hidup di sekitar tahun 1700-an tersebut. Jika tidak ada dia, kita akan tetap dipanggil seperti dalam kitab suci.

Benda hidup sudah dibuat kotaknya, Dmitry I. Mendeleyev pun ikut ikutan menyelesaikan membuat kotak yang sangat populer yaitu Tabel Periodik Unsur pada tahun 1869. Kotak yang tentunya sempat membuat kita pusing saat pelajaran kimia di SMA, selamat buat yang nggak dapat. Kotak kotak lain pun dibuatlah, bahkan untuk hal sederhana seperti buku pun dibuatkan kotaknya oleh Melvil Dewey, seorang pionir di bidang perpustakaan yang sangat membantu kita ketika mencari buku di perpustakaan. Hmm.. kotak yang berguna, ya?! Kita pastinya bisa menyebutkan banyak kotak lain yang berguna..

Sebenarnya apa sih dasar dari kita bikin bikin kotak? Linneaus, Mendeleyev dan Dewey pasti sepakat bahwa kotak yang mereka bangun hanyalah mengumpulkan persamaan dan perbedaan dari yang ada di alam. Mereka tidak menciptakan perbedaan atau kesamaan antara unsur, mereka melihat bahwa sebenarnya kotak itu sudah ada di alam dan mereka hanya perlu menterjemahkannya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh manusia. Perbedaan atau persamaan dari sebuah benda sudah menjadi sifat dari alam.

Sayangnya saking hobinya bikin kotak, manusia melewatkan bagian penting tadi. Bahwa perbedaan adalah bagian dari semesta. Tidak ada dua makhluk yang memiliki kesamaan yang sangat mendetail, bahkan untuk kembar identik sekalipun. Kotak Suku, Agama, Ras dan Golongan semakin dipertegas, dindingnya dipertebal dan diberi pengaman bagi mereka yang ingin memasukinya. Kotak Suku yang satu mencoba untuk mendominasi kotak suku yang lain, peristiwa yang sama seperti kotak Agama. Ingat perang berbasis ras atau agama di Bosnia-Serbia, Somalia atau yang hangat di Poso dari negeri sendiri, adalah Kotakisme yang berlebihan.

Anak sekolah juga hobi bikin kotak, lho! Namanya Gang! Terdengar seram kalo kamu ingat film Carlito’s Way, The Godfather, atau yang rada modern seperti Gangs of New York. Gangnya anak sekolah bisa menuju kesana, kok padahal berangkat dari kotak yang sederhana seperti gang mobil keren, gang sepatu keren, gang cewek keren, gang anak yang pulangnya dijemput pakai becak, gang motor dengan merk tertentu dan masih banyak lagi persamaan yang bisa dikarang jadi kotak. Berlebihan? Nggak, tuh! Menurut saya bikin gang di sekolah mempertebal jiwa kotakisme kita, yang memang sudah terkotak kotak. Karena dasarnya sudah mahir dalam pembuatan kotak, sebenarnya bikin gang yang bisa bikin kita makin dekat dengan teman sah sah aja. Trus setelah ada di dalam kotak kita mau ngapain, itu yang penting.

(also published on Belia-Pikiran Rakyat, 15 November 2005)

Pemain Indonesia, Mana Tahan !

November 17th, 2005 by cupflove

Opa Soekartono menyempatkan diri mampir ke studio Bandung TV, di bilangan Jl. Sumatera, untuk tampil sebagai nara sumber saya di program Balad Persib. Beliau hadir langsung dari pemusatan latihan Persib di Lembang, mengendarai mobilnya sendiri, sementara usianya sudah kepala tujuh. Wow, berikut saya sarikan dari obrolan baik on-air maupun off-air.

Kebutuhan Persib akan seorang pelatih fisik akhirnya terjawab. Pengurus menunjuk Drs. Soekartono sebagai penanggungjawab kebugaran serta aspek fisik lain bagi para pemain Persib mulai dari pre-season, hingga sepanjang LI XII 2006. Opa yang sudah berusia 74 tahun ini ternyata sudah sangat kenyang dengan pelatihan fisik bagi atlet amatir maupun profesional. Catat saja beberapa atlet legendaris Indonesia yang pernah dilatih fisiknya oleh beliau seperti Lim Swie King (bulutangkis); Abdul Kadir, Ronny Pattinasarani (sepakbola) dan yang paling baru mungkin skuad tim nasional Pra Piala Dunia tahun 2004 lalu.

Menanggapi tugas berat yang menanti, yaitu meningkatkan kualitas fisik pemain Persib menghadapi LI XII 2006, Opa Soekartono menjawab dengan senyum. "Ini tugas yang berat, saya mau jawab dengan apa lagi?" tandasnya tanpa bermaksud pesimis. Senyum memang resep segar dari Opa Soekartono. Mungkin senyum juga resep bagi tim Persib menyikapi mepetnya waktu persiapan, dengan TC hanya 2 minggu, terus nyambung ke berbagai pertandingan uji coba, sampai akhirnya liga bergulir 7/8 Januari 2006. "Persiapan untuk membentuk dasar kemampuan fisik yang baik saja memakan waktu 6-8 minggu, sementara waktu untuk saya hanya 2 minggu. Maka, prioritas selama TC ini hanya akan berfokus pada kecepatan, kelincahan, kekuatan dan kelenturan."

VO2 max, sebuah wacana lama tapi baru terangkat belakangan ini menjadi prioritas kedua pada masa TC. yang kemudian akan menjadi prioritas utama selama bergulirnya liga. "Pembentukan VO2 max, atau endurance, yang melebihi rata rata dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun. Dengan VO2 max yang dimiliki rata rata pemain di Liga Indonesia saat ini, mereka hanya mampu bermain optimal satu babak." Cukup mengherankan memang, mengingat tim IBL Aspac sudah memberikan perhatian khusus untuk pembentukan VO2 max diatas rata rata bagi para pemainnya. Jangan salahkan Aspac jika mereka mampu main menggigit sepanjang empat kuarter.

Walau bukan wacana baru, tapi perhatian untuk pembentukan endurance bagi para pemain sepertinya ditinggalkan oleh peserta Liga Indonesia. Padahal, aspek materi ini sudah kita pelajari sejak jaman Pendidikan Jasmani di SD. "Pemain asing sekalipun, jika bukan anggota fresh dari tim nasional negaranya, belum tentu memiliki VO2 max di atas rata rata, " imbuh Opa Soekartono.

VO2 max ideal untuk pemain sepak bola bermain penuh dua babak diuji dengan kemampuan lari selama 15 menit. Jika mampu lebih dari 4000 m/15 menit, maka sudah hampir menyamai standar pemain sepak bola Eropa. "Terakhir, saat menangani timnas U-20, Erik dan Syamsul Bachri punya daya tahan yang paling bagus di antara rekan lainnya, itupun hanya mencapai 3800 m/15 menit," demikian diungkapkan Soekartono.

Akhirnya obrolan kami sampai kepada kesimpulan bahwa, standardisasi kemampuan atau ketersediaan data kemampuan, terutama fisik masih belum menjadi agenda utama di Indonesia. Proses tes atau pengujian sebelum perekrutan seperti hanya sebuah formalitas belaka. Saya rasa pelatih sangat mengerti masalah endurance, atau VO2 max dan keterkaitannya dengan optimalisasi pemain selama 90 menit penuh, hanya saja karena rendahnya kualitas liga yang rendah berbagai standar pun rela diturunkan.
(Disarikan dari Wawancara dengan Opa Soekartono, Balad Persib, 15 November 2005)

Madagaskar

November 3rd, 2005 by cupflove

Hai, gadis kecil..
Disana kau rupanya bersama kawanmu
Belajar getaran dan pendulum rupanya dirimu

Hai, gadis kecil..
Bagaimana jika kuambil gambarmu
Jika malu, tak apa bersama temanmu

Hai, gadis kecil..
Kau bertanya siapa aku
Kau tersenyum ragu

Hai, gadis kecil..
Aku ini nyasar
Mengunjungimu dari masa depan yang hingar

Hai, gadis kecil..
Kau tampak bingung
Melihatku pun urung

Hai, gadis kecil..
Ingatlah wajahku
Ingatlah harumku

Hai, gadis kecil..
Kapan kau besar?
Aku akan menculikmu ke Madagaskar

Copyship

October 25th, 2005 by cupflove

Saya percaya setiap individu memiliki individu lain, yang memiliki kesamaan secara fisik.
Saya bisa jadi merupakan bentuk lebih baik (secara fisik) dari seorang individu, entah di mana.
Saya bisa jadi merupakan bentuk lebih buruk (secara fisik) dari seorang individu, entah di mana.
Ini menjelaskan banyak kemiripan yang kita lihat di berbagai tempat. "Kok, rasanya baru melihat si Anu, ya?" Nggak perlu heran, Teman. Bisa jadi dia adalah penurunan atau bentuk lebih baik dari teman Anda yang lain..

Dor

October 24th, 2005 by cupflove

Dor.
Kau tembak dada kananku
Bodoh.
Jantung kan sebelah kiri

Maaf.
Kau tersenyum manis
Lalu menarik pelatuk

Dor.
Sebutir air mata mengalir
Lebih sakit dari sebutir peluru
Yang singgah di dada kiri

Aku tersenyum.
Tepat di jantung, sayang
Seperti pertama kali

Dor.
Kutembak
Tepat di dada kirimu
Tepat di jantung, sayang
Seperti pertama kali, katamu
Indah.

Kita tersenyum.
Berpegang tangan.
Lalu terjatuh ke depan.
Tepat berpelukan.

Pinball

October 23rd, 2005 by cupflove

Saya nemenin seorang keponakan bermain sebuah game di komputer. Game-nya Pinball. Suatu ketika bola dari pin (ini bukan sih artinya Pinball), terjebak dalam sebuah kotak dan berulang kali membentur dinding, tapi nggak keluar keluar. Keponakan saya yang masih kecil ini kesal, habis dia jadi nunggu lama untuk memukul lagi bolanya.
Sepertinya hal yang sama sering terjadi dengan Saya, entah dengan Anda. Saya terjebak dalam sebuah kotak, sebuah masalah, yang sebenarnya pemecahannya ada tapi Saya membenturkan diri ke dinding yang sama berulang kali. Saya melihat sebuah jalan keluar, tapi seperti tidak ingin keluar.
Kotak yang Saya ciptakan terlalu nyaman?
Kotak yang Saya ciptakan merupakan Guilty Pleasure?
Hmm.. Kok, tercetus Guilty Pleasure, ya? Itu mah dengerin Peter Pan berulang ulang..

Semoga Teman!

October 19th, 2005 by cupflove

Teman, aku tahu
Teman, aku tahu kau tak bisa sembunyi
Teman, aku tahu kau tak bisa sembunyi karena kita di sini
Teman, aku tahu kau tak bisa sembunyi karena kita di sini di tempat yang sama
Teman, aku tahu kau tak bisa sembunyi karena kita di sini di tempat yang sama, waktu yang sama

Teman, aku tahu
Teman, aku tahu kau tahu
Teman, aku tahu kau tahu kotak ini terlalu sempit
Teman, aku tahu kau tahu kotak ini terlalu sempit namun kita hidup di sini
Teman, aku tahu kau tahu kotak ini terlalu sempit namun kita hidup di sini, ya di sini

Teman, aku tahu
Teman, aku tahu kau tahu
Teman, aku tahu kau tahu kita ada
Teman, aku tahu kau tahu kita ada untuk kita
Teman, aku tahu kau tahu kita ada untuk kita. Selamanya!