Archive for September, 2005

Tjap

Monday, September 26th, 2005

Masih belum mengaku penganut Kotakisme? Langkah pertama dalam Kotakisme adalah Cap. Anda pasti sering sekali membuat Cap, atau memberikan Label untuk sesuatu. Saat pertama bertemu dengan orang, ada sebuah standar dalam diri Anda, lalu setelah selesai satu atau dua sesi percakapan.. Bam! Ada Cap dijidatnya. Jidat Anda juga tentunya..

Anda bisa mengatakan Cap ini sebagai label, atau kata kasarnya judgement. Sebuah kotak yang Anda ciptakan untuk seorang yang Anda kenal. Menurut saya nggak salah kok kita jadi tukang Cap, hanya bagaimana memperlakukan seseorang yang udah kita beri Cap tersebut. Pengkotakan yang terlalu jelas untuk sebuah Cap, bakalan membuat Anda semakin hobi membuat kotak kotak baru. Anda akan semakin ahli membuat Cap. Bahkan sebelum seseorang berkenalan dengan Anda..

Lalu Anda akan berdalih, pengalaman telah mengajarkan Anda bahwa Cap itu memang ada di orang tersebut…

Saya lebih memilih tidak memiliki pengalaman dalam membuat Cap

Kotakisme

Monday, September 26th, 2005

Saya seorang penganut Kotakisme, karena menurut saya ada kotak untuk semuanya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak bisa dibuat kotak darinya. Semuanya ada batasnya, semuanya bisa diatur menurut sebuah keteraturan tertentu lalu diberi label, terakhir ditutup seperti kotak.
Sebagai penganut Kotakisme sejati, yang pertama saya lakukan saat melihat sebuah fenomena atau bahkan individu adalah membuat kotak untuknya terlebih dahulu. Ada sebuah tempat untuknya dalam folder dunia ini. Penyusunan kotak yang benar memudahkan saya untuk mengambilnya kembali saat dibutuhkan dalam bentuk data.
Penganut Kotakisme sejati menghargai kotak kotak yang telah dibuatnya. Terkadang Ia melewati satu kotak menuju kotak lain, tanpa mengubah bentuk tentunya. Tak berubah?

Desperate Housewives

Monday, September 26th, 2005

Expecting to have a perfect life?
Suburbia adalah sebuah dunia kecil, yang bisa ditemukan di mana saja. Kita bisa berharap untuk menjadi orang lain, saat melihat rumput tetangga lebih hijau, tapi lalu menutup mata ketika melihat palsunya warna hijau tadi. Saat ingin kembali ke kebun kita, ia telah menjadi cokelat tak terurus…

Free Wheely!

Monday, September 26th, 2005

HHHidup katanya seperti roda. Sebuah pameo yang diamini oleh orang orang, padahal mungkin yang mbikin adalah seorang penarik pedati dari jaman Fred Flinstone masih dalam kandungan. Pameo, kalo mau dipikir pikir, bakalan ada benernya. Cuma, biar rada sombong kita tambah tambahin dikitlah, macam filsuf aja.

Kalo kata saya, hidup itu seperti roda di dalam roda. Dan setiap orang punya diameter roda yang berbeda beda. Saya dengan Anda, misalnya. Mungkin roda hidup saya diameternya 2 meter, dan Anda 1 meter, artinya dalam T (waktu) yang sama, kesempatan Anda untuk kembali ke satu titik yang asal lebih cepat dari Saya. Ribet? Tenang, itu baru hubungan antara waktu dan radius lingkaran roda.

Masih kata saya juga, kecepatan putaran roda setiap orang pun beda beda. Nah, yang ini menjelaskan kenapa ada orang yang sial-nya lama banget. Mungkin udah rodanya gede, putarannya lambat. Mau yang lebih ribet lagi? Seperti yang udah saya terangin di awal, ini adalah teori roda di dalam roda. Maksudnya gini, roda utama kita lagi muter, nah kita sekarang lagi berjalan di roda kecil di dalam roda tersebut. Kalau yang ini untuk menggambarkan misalnya seorang yang ‘lagi’ sukses, nggak mungkin kan nggak ada susahnya? Saat susah dari seorang yang sukses tersebut bisa lama, bisa sebentar. Itu artinya disaat rodanya di atas (sukses) dia pun lagi berputar dalam sebuah roda yang lebih kecil…

Rp. 5000,-

Monday, September 26th, 2005

Setiap bangun pagi nyadar nggak kita tuh masih seperti anak kecil yang dikasih jatah uang jajan harian. Ada yang Rp. 5000,-; ada yang Rp. 10.000,- perhari. Beda beda. Sebuah mitos dalam mitologi kuno berkisah ini adalah talenta. Dalam bahasa modern, mungkin bisa diartikan bakat, berkat atau literally Rp. 5000,- beneran. At the and of the day, seperti anak kecil yang pulang dari sekolah. Ada yang membelanjakan jatahnya untuk beli pesawat pesawatan, ada yang ditabung, ada yang dipake untuk nraktir temen, ada yang abis nggak tau kemana. Ada yang dengan bangga menceritakan kepada orang yang memberinya uang jajan, ada yang bingung waktu ditanya, ada yang merasa kurang dan minta kenaikan jatah jajan buat besok. Ada yang nggak sadar kalo dia masih dikasih jatah jajan tiap harinya…

Bend Your Arms to Look Like Wings

Monday, September 26th, 2005

Bend Your Arms to Look Like Wings
(Funeral for A Friend, an Emo Band)

People are so dying to fly. Pikirnya terbang itu adalah wujud tertinggi dari kebebasan, kemerdekaan. Tinggi membuatnya bisa melihat lebih banyak dari yang lain. Langit yang seperti tak bertembok menambah arti merdeka. Mungkin ada yang kelupaan, langit tak bertembok, tapi juga tak beratap. Mungkin artinya, memang nggak ada kebebasan yang mutlak. Dalam sebuah kuliah Etika, sang dosen berkata, ‘Bebas itu dari siapa, bukan dari apa.’ Saya juga lupa sang dosen mengutip dari siapa, atau apa..