Kotakisme (Advance)
Sarah Azhari baru saja dinobatkan sebagai sebagai artis paling seksi tahun 2005 oleh sebuah perusahaan karet pengaman terkemuka di Indonesia, tapi beritanya langsung kalah heboh oleh bom bunuh diri The Demolition Man, DR. Azahari di saat yang hampir bersamaan. Pria asal Malaysia ini sudah jadi kandidat News Maker of the Year, pembuat berita paling kondang di negeri kita sejak kasus Bom Bali I, tahun 2002 lalu. Jika ada, penghargaan tersebut akan terlalu menyedihkan. Bukan kadar berita DR. Azahari vs Sarah Azhari yang akan saya angkat, bukan pula saya mencoba mencari kedekatan mereka dari nama yang sedikit mepet, tapi sebuah ajaran paling trend saat ini yaitu Kotakisme. Dalam pengertian yang tentunya saya karang sendiri artinya kecintaan terhadap kotak dan hobi membuat kotak yang ekstra berlebihan, tidak termasuk mereka pembuat kotak untuk katering, peti kemas atau pembuat peti mati tentunya.
DR. Azahari ditenggarai oleh pihak barat sebagai biang kerok segala bentuk teror berbasis agama yang jika dugaan ini benar maka, menurut saya DR. Azahari selain pakar bom juga pakar Kotakisme. Ia ada dalam kotaknya yang sangat sempit, dan membuatnya semakin sempit. Design kotaknya dibuat kaku, mereka yang ingin masuk harus mengikuti peraturan dalam kotaknya. Ia membuat dunia diluar kotak sebagai ‘yang asing’, walaupun ia sendiri mungkin tidak merasa teralienasi. Ia membuat kotak kotak berdasarkan agama lalu menghakimi mereka yang ada di luar kotaknya. Kepandaian membuat kotak lalu menyempitkanya di otak ini merupakan dasar dari Kotakisme, kemampuan sama seperti yang dimiliki oleh pendahulunya seperti si kumis kotak Adolf Hitler, Benito Mussolini, serta Osama bin Laden (jika tokoh ini bukan rekaan tim kreatif Gedung Putih atau Pentagon).
Kita kenal banyak kotak. Dari awal lahir juga kita langsung berada dalam kotak tertentu. Suku, Agama, Ras dan Golongan tertentu dalam masyarakat. Bahkan jika kita lahir di hutan atau gurun yang luas pun kita sudah lahir dalam sebentuk kotak. Sepertinya membuat kotak merupakah salah satu fitrah dari manusia yang makhluk sosial. Kita merasa lebih nyaman saat berkumpul dalam penghuni kotak yang sama. Berangkat dari sini, akhirnya muncul dunia di luar kotak.
Tidak cukup mengkotakkan spesiesnya sendiri, manusia merambah untuk membantu membuat kotak bagi rekan penghuni bumi lainnya. Sekira 2000 tahun yang lalu, Aristoteles mulai merintis jalan untuk mengkotak kotakkan makhluk hidup. Kotak ini dipertebal dan diperjelas oleh Carl Linne, atau yang kita kenal dengan Carolous Linneaus, sebagai pencetus klasifikasi makhluk hidup. Catat, demi mirip dengan kotak yang dibuatnya Carl rela mengganti namanya dengan Carolus yang ke latin latinan. Kita dipanggil sebagai Homo Sapiens pun berkat kotak yang digagas oleh ilmuwan asal Swedia yang hidup di sekitar tahun 1700-an tersebut. Jika tidak ada dia, kita akan tetap dipanggil seperti dalam kitab suci.
Benda hidup sudah dibuat kotaknya, Dmitry I. Mendeleyev pun ikut ikutan menyelesaikan membuat kotak yang sangat populer yaitu Tabel Periodik Unsur pada tahun 1869. Kotak yang tentunya sempat membuat kita pusing saat pelajaran kimia di SMA, selamat buat yang nggak dapat. Kotak kotak lain pun dibuatlah, bahkan untuk hal sederhana seperti buku pun dibuatkan kotaknya oleh Melvil Dewey, seorang pionir di bidang perpustakaan yang sangat membantu kita ketika mencari buku di perpustakaan. Hmm.. kotak yang berguna, ya?! Kita pastinya bisa menyebutkan banyak kotak lain yang berguna..
Sebenarnya apa sih dasar dari kita bikin bikin kotak? Linneaus, Mendeleyev dan Dewey pasti sepakat bahwa kotak yang mereka bangun hanyalah mengumpulkan persamaan dan perbedaan dari yang ada di alam. Mereka tidak menciptakan perbedaan atau kesamaan antara unsur, mereka melihat bahwa sebenarnya kotak itu sudah ada di alam dan mereka hanya perlu menterjemahkannya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh manusia. Perbedaan atau persamaan dari sebuah benda sudah menjadi sifat dari alam.
Sayangnya saking hobinya bikin kotak, manusia melewatkan bagian penting tadi. Bahwa perbedaan adalah bagian dari semesta. Tidak ada dua makhluk yang memiliki kesamaan yang sangat mendetail, bahkan untuk kembar identik sekalipun. Kotak Suku, Agama, Ras dan Golongan semakin dipertegas, dindingnya dipertebal dan diberi pengaman bagi mereka yang ingin memasukinya. Kotak Suku yang satu mencoba untuk mendominasi kotak suku yang lain, peristiwa yang sama seperti kotak Agama. Ingat perang berbasis ras atau agama di Bosnia-Serbia, Somalia atau yang hangat di Poso dari negeri sendiri, adalah Kotakisme yang berlebihan.
Anak sekolah juga hobi bikin kotak, lho! Namanya Gang! Terdengar seram kalo kamu ingat film Carlito’s Way, The Godfather, atau yang rada modern seperti Gangs of New York. Gangnya anak sekolah bisa menuju kesana, kok padahal berangkat dari kotak yang sederhana seperti gang mobil keren, gang sepatu keren, gang cewek keren, gang anak yang pulangnya dijemput pakai becak, gang motor dengan merk tertentu dan masih banyak lagi persamaan yang bisa dikarang jadi kotak. Berlebihan? Nggak, tuh! Menurut saya bikin gang di sekolah mempertebal jiwa kotakisme kita, yang memang sudah terkotak kotak. Karena dasarnya sudah mahir dalam pembuatan kotak, sebenarnya bikin gang yang bisa bikin kita makin dekat dengan teman sah sah aja. Trus setelah ada di dalam kotak kita mau ngapain, itu yang penting.
(also published on Belia-Pikiran Rakyat, 15 November 2005)
November 21st, 2005 at 9:43 am
kotak itu apa sih?
November 21st, 2005 at 6:47 pm
selamat, pak! saat bertanya kotak, anda baru saja membuat kotak. seperti saya yang baru saja membuat kotak dari Kotak.
November 22nd, 2005 at 4:57 am
dengan demikian kotak adalah sebuah definisi yang blur?
atau saya baru saja membuat kotak yang lain ?!
November 28th, 2005 at 8:05 am
Kotak Paulus mana, kok ‘gak keliatan?
Apakah kotak itu termasuk dalam kotak yang isinya adalah kumpulan kotak?
Paradoksnya: lalu apakah kotak yang isinya adalah kumpulan kotak tidak terdapat di dalam kotak yang lain?